GoKLIK Kab. Gorontalo. Ikatan Alumni Universitas Gorontalo (IKA UG) kembali muncul ke publik usai pengunduran diri Rektor Universitas Gorontalo. Mereka lantang menyerukan “Alumni Back to Campus”. Tetapi mari kita jujur: di mana IKA UG ketika kampus butuh dukungan nyata? Selama ini, kiprah IKA UG terasa hambar. Hampir tidak terdengar program beasiswa untuk mahasiswa daerah, tidak ada mentoring terstruktur untuk adik-adik di kampus, apalagi kontribusi pada infrastruktur pendidikan. Ketika kampus berjalan normal, suara alumni nyaris tak terdengar. Ironisnya, mereka justru ramai hadir ketika ada konflik atau masalah besar. Bandingkan dengan ikatan alumni kampus lain. Alumni Untirta turun tangan memberi beasiswa. Alumni Unmul terlibat langsung meningkatkan akreditasi kampus. IKA Unhas ikut memperjuangkan program beasiswa S2 dan S3. Sementara IKA UG? Hanya sibuk berwacana.
Pola “reaktif” ini jelas merugikan. Alumni seharusnya bukan penonton apalagi komentator musiman. Alumni punya tanggung jawab moral membesarkan kampus ‘Perjuangan’ yang melahirkan mereka. Tanpa itu, seruan “Back to Campus” terdengar kosong sekadar jargon yang lahir karena ada krisis, bukan karena kesadaran kolektif.
Saya menilai, langkah “Alumni Back to Campus” sebaiknya tidak berhenti sebagai respons situasional, melainkan dikembangkan menjadi gerakan berkelanjutan.
IKA UG punya modal besar: jaringan alumni di berbagai bidang. Sayangnya, potensi ini lebih sering disimpan rapi, seperti koleksi barang antik yang hanya dipamerkan saat ada tamu. Jika terus begitu, jangan salahkan publik bila melihat IKA UG sekadar organisasi tidur yang baru bangun ketika ada gaduh.
Sudah saatnya IKA UG berhenti bermain di wilayah simbolik dan seremonial. Jika serius, mulailah dari hal konkret: bentuk program beasiswa alumni, buka ruang mentorship bagi mahasiswa, bangun jejaring kerja sama dengan pemerintah dan industri. Jangan tunggu kampus gaduh baru muncul, lalu mengaku peduli.
Saya menyadari posisi saya sebagai salah satu alumni yang paling junior, tapi begitulah yang terbaca: kampus dijadikan arena politik internal alumni, bukan rumah bersama yang dirawat. Kalau pola ini terus dipelihara, maka jangan heran bila IKA UG lebih dikenal bukan sebagai penggerak pendidikan, melainkan sebagai gerbong oportunis yang hanya menunggu kereta mogok untuk berebut masinis.
WhatsApp
facebook
INSPIRASI 31 Mei 2026
‎GoKLIK - Limboto.| Ada satu hal yang sering terlupakan di tengah hingar bingar ramainya hari kehidupan modern, kebaikan memiliki cara unik untuk menularkan efek dominonya. Ia bergerak dari...
Selengkapnya...Copyright © GoKLIK.CO.ID
All Rights Reserved.
By 
Copyright © GoKLIK.CO.ID | All Rights Reserved.
By 